Dulu, kalau kita bicara soal berangkat umroh, yang terlintas di pikiran mayoritas orang Indonesia adalah harus mendaftar ke biro travel, membayar paket yang sudah ditentukan, lalu tinggal duduk manis mengikuti jadwal. Kami pun awalnya berpikiran yang sama. Bayangan tentang kerumitan mengurus administrasi di Arab Saudi menjadi hal yang menakutkan dan seringkali membuat kita merasa “aman” jika ada pihak yang mengatur segalanya dalam hal ini adalah travel.
Namun, zaman sudah berubah. Kini, tren bepergian secara mandiri alias backpacker-an sudah merambah ke ranah ibadah umroh. Ternyata, pergi ke Arab Saudi untuk umroh bisa dilakukan sendiri tanpa harus lewat travel, persis seperti saat kita liburan ke Singapura, Jepang, atau Eropa. Semua persiapan, mulai dari visa hingga hotel, bisa kita kendalikan sepenuhnya di ujung jari.
Landasan Hukum Umroh Mandiri: Kini Legal dan Diakui
Mungkin ada yang bertanya, “Memangnya boleh berangkat umroh tanpa travel? Nanti di bandara dicegat tidak?” Jawabannya: Sangat boleh!
Legalitas ini diperkuat dengan diterbitkannya Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2025, yang merupakan perubahan ketiga atas UU Nomor 8 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji dan Umrah.
Dalam Pasal 86, dijelaskan secara gamblang bahwa ibadah umrah dapat dilakukan melalui tiga jalur:
(a) PPIU (biro travel)
(b) secara mandiri, atau
(c) melalui Menteri.
Regulasi ini sejalan dengan visi “Saudi 2030” milik Kerajaan Arab Saudi. Mereka ingin lebih terbuka kepada dunia dan menargetkan jutaan wisatawan setiap tahunnya. Sekarang, pemerintah Saudi bahkan mempermudah aturan visa. Kamu bisa masuk ke Mekkah dan Madinah menggunakan jenis visa apa pun, termasuk visa turis, yang proses pengajuannya sangat cepat dan bisa dilakukan secara online.
Kelebihan Umroh Mandiri
Umroh mandiri membutuhkan pengupayaan yang sangat berbeda jika dibandingkan umroh bersama travel. Berikut adalah beberapa alasan mengapa jalur ini mulai diminati:
1. Kebebasan Waktu yang Mutlak
Kalau ikut travel, jadwal kita sudah dipatok. Harus bangun jam sekian, kumpul di lobi jam sekian, dan pulang di tanggal yang sudah ditentukan. Dengan umroh mandiri, kamulah bosnya. Kamu ingin di Mekkah 10 hari? Bisa. Mau lanjut jalan-jalan ke Al-Ula atau Riyadh? Silakan. Dengan visa turis, kamu punya jatah tinggal hingga 90 hari. Kebebasan ini sangat berharga bagi mereka yang ingin beribadah dengan ritme yang lebih tenang tanpa merasa dikejar-kejar jadwal jika bersama grup.
2. Anggaran yang Bisa Ditekan (Ramah Dompet)
Ini adalah alasan paling populer. Umroh mandiri memungkinkan kita memangkas biaya operasional biro travel. Kamu bisa berburu tiket pesawat promo dari jauh-jauh hari atau memilih maskapai low cost carrier. Untuk penginapan, kamu bisa mencari hotel yang sedang diskon di aplikasi pemesanan atau memilih apartemen yang agak jauh dari masjid namun dekat dengan jalur transportasi umum (bus shalawat). Jika jeli, kamu bisa menghemat jutaan rupiah dibandingkan mengambil paket travel.
3. Itinerary yang Fleksibel (Cocok untuk Introvert)
Bagi sebagian orang, berkumpul dengan puluhan orang asing dalam satu grup bisa melelahkan secara mental. Di umroh mandiri, kamu tidak perlu menunggu orang lain di lobi hotel hanya untuk pergi city tour. Kamu bisa menentukan sendiri kapan ingin ke Jabal Nur, atau mungkin memilih untuk menghabiskan waktu seharian penuh di dalam masjid untuk beriktikaf. Jika sedang lelah, kamu bisa tidur sepuasnya di hotel tanpa merasa bersalah karena ketinggalan rombongan.
4. Pengalaman Spiritual dan Petualangan yang Lebih Mendalam
Ada kepuasan tersendiri saat kita berhasil menavigasi diri di negeri orang. Mulai dari belajar naik kereta cepat Haramain Express, memesan taksi online, hingga bertransaksi di pasar lokal. Pengalaman ini akan jauh lebih berkesan karena kita terlibat langsung dalam setiap prosesnya, bukan sekadar menjadi “penumpang” yang terima beres.
Kekurangan Umroh Mandiri
Tentu saja, umroh mandiri bukan tanpa hambatan. Sahabat harus siap dengan beberapa konsekuensi berikut:
1. Kendala Bahasa
Bahasa utama di sana adalah Arab. Meskipun banyak pedagang atau petugas yang bisa bahasa Inggris (meski tidak lancar), tetap saja ada potensi salah paham. Namun, jangan khawatir! Di era sekarang, kita punya Google Translate. Bahkan, bahasa isyarat pun sangat ampuh di sana. Masyarakat Saudi umumnya sangat ramah kepada jamaah umroh, jadi komunikasi jarang menjadi masalah besar yang buntu.
2. Risiko Biaya Membengkak
Nah, ini jebakannya. Jika kamu tidak disiplin melakukan riset harga, umroh mandiri justru bisa lebih mahal. Misalnya, memesan tiket pesawat di saat musim puncak (peak season) atau memesan hotel di menit-menit terakhir. Kuncinya adalah rajin memantau aplikasi dan memiliki perencanaan keuangan yang matang.
3. Mandiri dalam Hal Logistik dan Makanan
Jika ikut travel, makanan biasanya sudah tersaji di restoran hotel tiga kali sehari dengan menu Indonesia. Di umroh mandiri, kamu harus mencari makan sendiri. Kabar baiknya, mencari makanan di Mekkah dan Madinah itu sangat mudah. Ada banyak gerai makanan mulai dari ayam goreng Al-Baik yang legendaris hingga nasi briyani. Porsinya pun besar, biasanya satu porsi cukup untuk dimakan berdua, yang mana ini bisa menjadi cara tambahan untuk berhemat.
Siapa yang Cocok Melakukan Umroh Mandiri?
Meskipun terdengar seru, jalur ini mungkin tidak cocok untuk semua orang. Berdasarkan pengamatan, tipe orang yang disarankan mencoba umroh mandiri adalah:
- Pernah Bepergian ke Luar Negeri: Orang yang sudah terbiasa dengan prosedur bandara, imigrasi, dan sistem transportasi internasional biasanya akan lebih tenang. Namun, ini bukan syarat wajib. Banyak juga pemula yang sukses melakukan umroh mandiri asalkan mereka mau banyak bertanya.
- Pernah Umroh Sebelumnya: Jika kamu sudah pernah umroh dengan travel, kamu setidaknya sudah tahu gambaran medan di lapangan. Kamu sudah paham letak pintu masjid, lokasi miqat, dan tata cara ibadah. Hal ini akan sangat membantu saat kamu berangkat sendiri.
- Berjiwa Pembelajar dan Berani: Ini adalah syarat yang paling penting. Di zaman internet, semua informasi tersedia. Mulai dari tutorial cara pakai kain ihram di YouTube, hingga cara pesan visa turis di blog. Jika kamu punya kemauan untuk belajar dan keberanian untuk mencoba hal baru, maka umroh mandiri adalah pilihan yang sangat layak dicoba.
Tips Tambahan untuk Persiapan Umroh Mandiri
Jika kamu mulai tertarik, mulailah dengan langkah kecil:
- Riset Visa: Cari tahu perbedaan visa umroh dan visa turis. Saat ini, Visa Turis (E-Visa) seringkali lebih disukai karena prosesnya instan dan memperbolehkan kita keliling seluruh kota di Arab Saudi.
- Download Aplikasi Pendukung: Pastikan di ponselmu terpasang aplikasi seperti Nusuk (untuk izin masuk Raudah), Uber atau Careem (untuk transportasi), serta aplikasi pemesanan hotel.
- Bergabung dengan Komunitas: Cari grup di Facebook atau Telegram yang membahas tentang umroh mandiri atau backpacker umroh. Pengalaman orang lain adalah guru terbaik.
Kesimpulan Umroh mandiri adalah jalan bagi mereka yang mencari kemandirian dan bisa jadi efisiensi biaya. Ini bukan sekadar tentang perjalanan fisik ke tanah suci, tapi juga perjalanan melatih tanggung jawab dan kedekatan personal dengan Sang Pencipta tanpa sekat protokol travel.
Selama regulasi mendukung dan persiapan matang, mengapa tidak mencoba melakukannya minimal sekali seumur hidup. Bagi sahabat yang ingin konsultasi terkait umroh mandiri jangan sungkan menghubungi Kami.


