Bagi setiap Muslim, mengunjungi Madinah Al-Munawwarah bukan sekadar perjalanan wisata biasa. Ada rasa rindu yang membuncah untuk bersujud di Masjid Nabawi, rumah kedua bagi umat Islam setelah Masjidil Haram. Masjid yang didirikan langsung oleh Baginda Nabi Muhammad ﷺ ini bukan hanya bangunan megah dengan payung raksasanya yang ikonik, melainkan pusat peradaban yang mengubah sejarah dunia.
Mengapa Masjid Nabawi begitu dicintai? Apa yang membuatnya begitu istimewa hingga jutaan orang rela mengantre dan berdesakan hanya untuk memasukinya? Yuk, kita bedah bersama keistimewaan Masjid Nabawi yang akan membuat kita semakin rindu untuk kembali ke sana.
Jejak Sejarah: Dari Tempat Penjemuran Kurma Menjadi Pusat Dunia
Tahukah sahabat? Lokasi Masjid Nabawi yang sekarang amat luas itu dulunya adalah tempat yang sangat sederhana. Saat Nabi Muhammad ﷺ hijrah dari Mekkah ke Madinah, unta beliau berhenti di sebuah lahan kosong milik dua anak yatim bernama Sahl dan Suhail bin ‘Amr. Lahan itu awalnya digunakan untuk menjemur kurma.
Dengan penuh keadilan, Nabi membeli tanah tersebut untuk membangun masjid dan tempat tinggal beliau. Pada awal berdirinya, masjid ini hanya berukuran 50 x 50 meter dengan atap dari daun kurma dan tiang dari batang pohon kurma. Sangat sederhana, bukan? Namun, dari bangunan sederhana inilah, hukum-hukum Islam disebarkan ke seluruh penjuru dunia. Kini, setelah mengalami berbagai perluasan dari era Khalifah Umar bin Khattab hingga Kerajaan Arab Saudi modern, masjid ini mampu menampung hingga 1 juta jemaah!
1. Pondasi Utama: Masjid yang Dibangun di Atas Dasar Takwa
Keistimewaan pertama yang membuat Masjid Nabawi begitu sakral adalah niat pembangunannya. Allah SWT menegaskan dalam Al-Qur’an (Surah At-Taubah ayat 108) bahwa ada masjid yang didirikan atas dasar takwa sejak hari pertama.
Banyak ulama, termasuk berdasarkan hadis sahih riwayat Imam Muslim, menyebutkan bahwa masjid yang dimaksud adalah Masjid Nabawi. Rasulullah ﷺ bahkan pernah menegaskan hal ini dengan mengambil segenggam pasir dan menghempaskannya ke tanah untuk menunjukkan betapa kuatnya nilai ketakwaan yang menjadi pondasi masjid ini. Berada di dalamnya akan memberikan ketenangan batin yang tidak bisa ditemukan di tempat lain.
2. Bonus Pahala: Salat yang Bernilai 1.000 Kali Lipat
Siapa yang tidak tergiur dengan investasi akhirat yang berlipat ganda? Salah satu magnet utama jemaah haji dan umrah berbondong-bondong ke sini adalah janji pahala dari Rasulullah ﷺ.
Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Nabi bersabda bahwa satu kali salat di Masjid Nabawi lebih baik daripada 1.000 kali salat di masjid lainnya, kecuali di Masjidil Haram. Bayangkan, jika sahabat melaksanakan salat fardu di sini selama satu hari saja, pahalanya setara dengan salat selama hampir tiga tahun di tempat lain. Inilah “diskon besar-besaran” pahala yang disediakan Allah bagi hamba-hamba-Nya yang berkunjung ke Madinah.
3. Kehadiran Sang Pelopor: Rasulullah Ikut Membangun Langsung
Masjid Nabawi memiliki nilai sentimental yang sangat tinggi karena Rasulullah ﷺ bukan hanya memerintahkan pembangunannya, tapi beliau adalah pelopor dan kuli pertama dalam pembangunannya.
Beliau ikut mengangkat batu-batu berat, mengaduk tanah, dan menyusun fondasinya bersama para sahabat. Keterlibatan langsung Nabi ini menunjukkan bahwa masjid adalah jantung dari komunitas Muslim. Setiap sudut Masjid Nabawi adalah saksi bisu tetesan keringat dan doa Rasulullah demi tegaknya agama Islam.
4. Peristirahatan Terakhir: Makam Baginda Nabi dan Para Sahabat

Di sudut tenggara masjid, terdapat area yang selalu dipenuhi isak tangis haru: makam Rasulullah ﷺ. Beliau dimakamkan di tempat beliau wafat, yaitu di kamar Ummul Mukminin Aisyah RA.
Tidak hanya Rasulullah, di samping beliau juga beristirahat dua sahabat terbaiknya, Abu Bakar Al-Shiddiq dan Umar bin Khattab. Keberadaan makam ini menjadikan Masjid Nabawi sebagai tempat yang penuh dengan energi cinta. Mengucapkan salam langsung di depan makam beliau adalah impian setiap mukmin, sebuah momen pertemuan spiritual yang sangat mendalam.
5. Raudhah: Sepotong Taman Surga yang Turun ke Bumi

Inilah bagian yang paling dicari-cari: Raudhah Al-Mutahharah. Rasulullah ﷺ bersabda, “Antara rumahku dan mimbarku adalah salah satu taman dari taman-taman surga.” (HR. Bukhari & Muslim).
Secara fisik, area ini ditandai dengan karpet berwarna hijau (berbeda dengan area lain yang berkarpet merah). Berdoa di Raudhah diyakini sebagai tempat yang sangat mustajab. Meskipun harus mengantre panjang melalui aplikasi (seperti Nusuk), perjuangan itu akan terbayar lunas saat Sahabat berhasil bersujud di “Taman Surga” tersebut. Rasanya seolah-olah beban dunia terangkat seketika.
Kesimpulan: Destinasi yang Mengubah Hidup
Masjid Nabawi bukan sekadar destinasi religi atau monumen sejarah. Ia adalah tempat di mana cinta kepada Nabi dipupuk, pahala dilipatgandakan, dan doa-doa melangit di taman surga. Dari sejarahnya yang sederhana hingga kemegahannya saat ini, Masjid Nabawi tetap menjadi pelita bagi peradaban Islam.
Bagi Sahabat yang sedang merencanakan ibadah umrah atau haji, pastikan untuk menyiapkan hati dan fisik agar bisa merasakan kedamaian di Masjid Nabawi. Semoga Allah segera memanggil kita semua untuk bertamu ke rumah kekasih-Nya. Amin.
Apakah Sahabat punya pengalaman tak terlupakan saat berada di Masjid Nabawi? Atau Sahabat sedang menabung untuk bisa ke sana? Yuk, ceritakan impianmu di kolom komentar!
Referensi:
- Wikipedia, diakses pada 2025. Masjid Nabawi
- Saudipedia, diakses pada 2026. The Prophet’s Mosque

